Selasa, 07 Desember 2010

Kapan Harga Emas Menjadi Terlalu Tinggi Untuk Dibeli...?

Oleh Muhaimin Iqbal
Selasa, 07 December 2010 07:47

Sekitar dua bulan lalu ketika harga emas dunia mendekati US$ 1,300/Oz yang menurut sebagian orang sudah ketinggian, saat itu saya membuat tulisan dengan judul Harga Emas Tinggi Tetapi Tidak Ketinggian. Pagi ini harga emas dunia sudah mencapai US$ 1,424/Oz atau naik sekitar US$ 125/Oz sejak tulisan tersebut saya buat, pertanyaanya adalah apakah kini harga emas tersebut sudah menjadi ketinggian ?. Jawaban saya tetap belum. Lantas bagaimana caranya mengetahui kapan harga emas dunia menjadi terlalu tinggi untuk dibeli ?.

Begini, emas adalah uang hakiki sepanjang zaman. Saat ini uang hakiki tersebut nilainya - secara keliru – ditakar dengan uang fiat yang bisa dengan begitu mudah dicetak atau diketik dari awang-awang. Tetapi bolehlah untuk sementara karena uang fiat yang saat ini digunakan untuk membeli apapun di dunia – termasuk untuk membeli emas – maka untuk keperluan menjawab pertanyaan tersebut diatas saya gunakan uang kertas juga untuk menakar harga emas.

Saya mencoba mencari formula yang lebih baru, namun sejak kejadian Nixon Shock 1971 rupanya tidak ada lagi yang mengembangkan teori hubungan antara uang kertas dengan emas. Maka saya gunakan teori pra 1971 untuk melihat hubungan ini, saya gunakan apa yang disebut persamaan Breton Woods yaitu The Value of Money = (Monetary Base : Official Gold Holdings ).

Monetary base adalah uang yang beredar plus reserve. Reserve adalah uang bank yang ada di bank sentral dan uang yang ada di brankas perbankan. Official Gold Holdings adalah cadangan emas yang dimiliki oleh bank sentral.

Nah sekarang kita akan menggunakan formula tersebut untuk menentukan pada tingkat berapa harga emas menjadi terlalu tinggi untuk dibeli dengan uang kertas. Untuk mengaplikasikan teori tersebut saya perlu data Monetary base US Dollars dan cadangan emas yang dimiliki Amerika. Untuk monetary base saya lebih bercaya data dari Shadow Government Statistic seperti pada grafik dibawah. Posisinya saat ini berada di kisaran US$ 2 trilyun.

Monetary Base US$

Monetary Base US$

Untuk cadangan emas resmi pemerintah saya ambil dari datanya World Gold Council yang untuk AS saat ini menunjukkan angka 8,133.5 ton atau 261 juta Oz. Jadi untuk US$ , the value of Money-nya saat ini adalah = US$ 2 trilyun/261 juta Oz atau 7,663 US$/Oz. Artinya apa angka ini ?. Bila harga emas tersebut saat ini dapat melampaui angka US$ 7,663/Oz – baru harga emas dunia menjadi terlalu mahal untuk dibeli dengan US$.

Tetapi karena angka ini dinamis, pembilangnya (monetary base) cenderung bertambah sedangkan penyebutnya cenderung tetap (Official Gold Holdings) ; maka angka tersebut diatas akan cenderung naik terus dari waktu ke waktu. Perhatikan grafik dibawah yang dibuat oleh perusahaan asset management terkenal QB Assets management. Dalam sejarah dunia modern, hanya pernah sekali harga emas ini terlalu mahal untuk dibeli dengan uang US$ yaitu pada tahun 1980 (perhatikan grafik biru yang berada dibawah grafik kuning tahun 1980 ).

Shadow Gold Price

Shadow Gold Price by QBAM

Dari grafik tersebut diatas kita juga bisa melihat, bahwa sejauh mata kita memandang – kita belum bisa melihat harga emas ini akan ketinggian untuk dibeli dengan US$. Saya kesulitan menyimpulkannya dalam bahasa Indonesia, tetapi ada bahasa jawa yang pas untuk ini yaitu tangeh lamun – untuk menggambarkan sesuatu yang amat sangat kecil peluangnya. Jadi tangeh lamun (sangat-sangat kecil peluangnya) harga emas menjadi terlalu mahal untuk dibeli dengan US$ kapan-pun.

Lantas bagaimana dengan harga emas dalam Rupiah ?, ya sami mawon – lha wong US$ dan Rupiah ini satu guru satu ilmu... Wa Allahu A’lam.

Jumat, 26 November 2010

Kejahatan Yahudi Menjajah Dunia Melalui Uang yang Kita Pakai

Setelah kehancuran Khilafah Islamiyah Turki Utsmani tahun 1924, yahudi mengubah uang dinar emas dan dirham perak menjadi kertas-kertas bergambar (uang hampa/fiat money) yang berbeda sebutan untuk masing-masing negeri dan mengatur nilai takaran sesuai hawa nafsunya.

Dalam protokolat zionis yang disusun di kediaman sir meyer amschell Rothschild di tahun 1773 dan disahkan penggunaannya sebagai agenda bersama zionis yahudi dalam konferensi zionis internasional di swiss tahun 1897, disebutkan bahwa penguasaan dan penggunaan uang sebagai senjata penguasaan manusia. (eramuslim digest, The Satanic Finance, edisi 8)

Dalam butir ke-3 protokolat zionis berbunyi, “Kekuatan uang selalu bisa mengalahkan segalanya. Agama yang bisa menguasai rakyat pada masa lalu, kini mulai digulung dengan kampanye kebebasan. Namun rakyat banyak tidak tahu harus bagaimana dengan kebebasan itu. Inilah tugas konspirasi untuk mengisinya demi kekuasaan dengan kekuatan uang”.

Melalui sebuah negara yang dibuatnya yaitu amerika (uncle sam), yahudi memainkan konspirasinya. Siapa uncle sam? Yaitu samiri yang membuat patung sapi untuk disembah ketika Nabi Musa meninggalkan kaum Bani Israil selama 40 hari.

Kemudian dibuatlah The Fed (The Federal Reserve System) yang menjadi panglima besar sistem keuangan riba beserta prajurit-prajurit bank sentralnya yang ditanam di seluruh penjuru dunia mampu “menyihir” manusia dengan menganggap kertas bergambar sama dengan emas dan perak dan menjadikan dollar amerika sebagai parameter takaran nilainya (dolarisasi).

Maka kapanpun, dengan hitungan detik, yahudi bisa menjatuhkan nilai kertas sebuah negeri terhadap dollar amerika. Kalau membangkang, ya dijatuhkan nilai kertasnya sehingga menimbulkan ketidakpercayaan dari rakyatnya, tapi kalau tunduk dan patuh maka nilai tukarnya dibuat seolah stabil.

Sungguh permainan yang busuk tapi sayangnya kita tidak bisa melihatnya karena dididik dengan ilmu dan sistem pendidikan buatan mereka juga, ya jadinya menganggap seperti tidak terjadi apa-apa dan tidak merasa disihir dan dibodohi malah cara berpikir dan bertindak jadi mirip dengan mereka.

Maka selama kita menganggap kertas bergambar itu berharga, bekerja siang malam banting tulang untuk mendapatkannya, menyimpan dan menggunakannya dalam perdagangan maka selama itu pula kita membiayai perjuangan konspirasi yahudi yang ingin menjadikan penduduk dunia menjadi budak pelayan bagi mereka.

Maka pernah ada kampanye “one man one dolar” dengan tujuan ingin menyelamatkan Palestin. Padahal dengan kampanye tersebut, justru semakin menguatkan yahudi untuk menghancurkan penduduk muslim Palestin. Kalau mau, dirubah menjadi “one man one gold dinar” atau “one man one silver dirham”.

Dan kampanye “boikot produk-produk yahudi” pun belum cukup selama kita masih membeli barang dengan kertas-kertas bergambar buatan mereka. Kekuatan inti mereka bukan di produk tapi di alat tukar. Alat tukar inilah yang menjadi kekuatan terbesar yahudi untuk menjajah dunia.

Lambang-Lambang Yahudi di dollar amerika

Dollar us menjadi bosnya fiat money, sedang fiat money lainnya ngikut sebagai anak buah. Dan anak buah (fiat money) yang ada di seluruh penjuru dunia ini akan tunduk dan patuh terhadap kemauan dan keinginan bosnya yaitu dollar as. Dan lambang-lambang di dollar amerika menunjukkan arah akan dibawa kemana kita ini.

Kenapa disebut “mata uang”? Karena dalam kertas bergambar (1 dollar as) ada logo buatan yahudi yaitu “mata satu” dajjal,. Tiada lain itu adalah simbol all-seeing eye atau eye of providence. Yaitu satu mata yang penglihatannya mencakup segalanya.

Rasulullah Saw sendiri telah memberitahu bahwa salah satu ciri fisik yang paling menonjol dari dajjal adalah matanya yang buta satu (a'war) dan di jidatnya terdapat tulisan ka-fa-ra. (www.eramuslim.com)

Rasulullah selalu mewanti-wanti umatnya agar dapat terhindar dari fitnah dajjal ini, tiada orang yang dapat lolos dari tipuan dajjal kecuali seorang mukmin sejati. Itulah sebabnya ia dinamakan dajjal, karena secara bahasa "dajjal" berarti “yang tertolak” dan pembohong alias penipu adalah pekerjaannya.

Slogan “In God We Trust” berarti “hanya pada Tuhan yang satu - Setan Lucifer - kita percaya”. Lucifer itu artinya iblis (setan), biasa disimbolkan dengan cahaya (api). Slogan “Annuit Coeptis” artinya Limpahan kurnia (favour our daring undertaking). Dua kata yang tertera di bagian atas lambang itu yang bermakna "Sesungguhnya kepentingan kita sarat dengan pelbagai keberhasilan".

Ia juga berarti "Kejayaan Milik Kita" atau "Kepentingan Penuh Keberhasilan" atau "Yang Agung Yang Beraja" atau juga berarti "Raja Istimewa" atau "Penutup (Segel) Orang Mesir". Segel itu adalah segel Dajjal yang mengaku dirinya sebagai dukun terbesar (dari keturunan) Mesir .

Lambang Piramid merupakan Lambang Fir’aun/Piramid Gaza, Menara Babil, Hierarki Kekuasaan. Jumlah bata pada Piramid adalah 13 baris (the lucky number) yang terdiri dari 72 bata.

Lebih jauh dari itu, di dasar simbol pyramida tersebut tertuliskan "MDCCLXXVI" yang berarti tahun "1776" yaitu tahun dimana Adam Weishaupt menyelesaikan penulisan buku tersebut tepatnya pada tanggal 1 Mei 1776. Dalam buku yang disusun selama lima tahun oleh Weishaupt itu, ia menggagaskan di dalamnya tentang konsep, doktrin dan teori sebuah pemerintahan global.

Adapun slogan berbahasa latin "Novus Ordo Seclorum" artinya "New Order in the ages" yaitu “pemerintahan baru dalam suatu masa" atau sering diterjemahkan “new world order yaitu “tata dunia baru” atau "tata masyarakat baru". Ini adalah misi yahudi untuk menjadikan penduduk dunia di bawah kontrol dan kendali mereka.

Bahkan jika diteliti satu-persatu simbol yang terdapat dalam uang satu dollar as akan ditemukan tentang pesan rahasia yang sangat mengagetkan, seperti logo burung phoenix/garuda (simbol kebebasan/dewa horus) yang membawa panah dan daun berjumlah 13, bintang yang berjumlah 13 dan membentuk titik-titik heksagram (bintang David) dan "E Pluribus Unum" yaitu “dari banyak menjadi tunggal” yang berarti “banyak negara menjadi satu pemerintahatan dunia” yang juga terdiri dari 13 huruf yang semuanya memiliki falsafah konspirasi tersendiri.

Itulah Yahudi yang ingin menguasai dunia dengan menyatukan segala ideologi yang ada di dunia ini dengan ideologi bangsa Yahudi yang sesembahannya adalah Lucifer (iblis/setan) yang dilukiskan dengan “patung baphomet” (manusia berkepala kambing) dan dajjal sebagai panglima perang yang ditunggu-tunggu yang dilukiskan dengan “mata satu”.

Langkah Yahudi untuk Mewujudkan Ambisinya

Dalam dunia nyata, terdapat beberapa langkah kongkrit yang diambil oleh yahudi dalam rangka mewujudkan ambisi mereka ini; Pertama dengan mengendalikan sistem moneter dunia dalam satu kantong besar melalui raja rentenir dunia IMF dan World Bank (Bank Dunia) dengan antek-antek rentenir lokalnya yaitu bank-bank sentral di masing-masing negara sehingga akan tercipta ketergantungan yang kuat (terlilit hutang) sebuah negara terhadap lembaga ini yang dengan itu pula mereka mampu membuat kembang-kempis nafas sebuah negara dengan mudah.

Ingat, bank sentral (the fed) itu bukan milik negara tapi milik swasta yang isinya para rentenir yahudi, jadi yang cetak uang kertas (fiat money) itu bukan negara tapi swasta (milik pribadi/rentenir yahudi). Ingin tahu berapa keuntungan rentenir bank sentral amerika (the fed/federal reserve system)? Semenjak woodrow wilson menyatakan sumpah jabatannya tahun 1912, hutang negara telah meningkat dari 1 milyar dolar menjadi hampir 11 trilyun dolar pada tahun 2010 ini.

Lumayan, untung 11.000.000% selama 98 tahun atau 11.224% per tahun atau 935% per bulan, itupun hanya dengan mencetak kertas bergambar yang modalnya hanya us 0,05 dolar per lembar . Ini baru keuntungan dari bunga saja.

Belum lagi keuntungan yang diperoleh dari seigniorage yaitu selisih biaya cetak. Untuk mencetak us$ 1 dengan biaya us$ 0,05 maka dapat keuntungan 1900%. Itu keuntungan untuk pecahan us$ 1. Bagaimana keuntungan untuk pecahan us$ 100? Untungnya 200.000%. Jadi berapa total keuntungan yang diperoleh rentenir yahudi ini? Tinggal ditambah aja keuntungan dari seigniorage dan keuntungan dari bunga. Silahkan hitung sendiri aja.

Kepada siapa hutang negara ini dibebankan? Kepada siapa lagi kalau bukan kepada rakyatnya sendiri yaitu pajak-pajak yang dibebankan di segala bidang kehidupan. Bagaimana kalau lewat pajak tidak cukup? Ya menjual aset dan kekayaan negara. Sampai kapan? Sampai negara dan rakyat menjadi bener-bener fakir miskin sehingga tergadailahdiin-nya.

Semua negara di dunia berkiblat ke amerika, tidak heran kalau nasibnya sama yaitu sama-sama terlilit hutang sama rentenir yahudi. Aneh, kalau masih menganggap amerika sebagai kiblat dalam kemajuan dunia. Sudah tahu masuk jurang, eh malah ikut-ikutan masuk jurang, bangga pula kalau ikut masuk jurang. Na’udzubillah min dzalik.

Menggunakan bank sentral untuk menciptakan masa inflasi dan deflasi silih berganti untuk mengeruk keuntungan dari rakyat sebanyak-banyaknya telah direkayasa kumpulan rentenir yahudi internasional menjadi sebuah ilmu eksakta yang memukau yaitu ilmu ekonomi batil yang diajarkan di sekolah-sekolah buatan mereka juga.

Salah satu ucapan rothschild yang masyhur adalah, "Give me control over a nations economic, and I don't care who writes its laws" (Beri aku kesempatan untuk mengendalikan ekonomi suatu negeri, dan aku tidak akan pedulikan siapa yang berkuasa).

Rothschild dan Rockefeller adalah penyandang dana di balik konspirasi yahudi ini yang sekarang diteruskan oleh keluarganya. Merekalah yang berada di balik setiap krisis dan peperangan dengan selalu bermain di kedua belah pihak yang bertikai sehingga siapapun yang menang tetap bisa “balik modal”. (Gary Allen, None Dare Call It Conspiracy)

Mereka juga mengangkat dan menurunkan pemimpin suatu negara melalui sistem syirik demokrasi buatan mereka sendiri dengan merentenkan kertas bergambar untuk modal kampanye busuk bagi setiap bakal calon. Maka siapapun pemenangnya, tetap “balik modal” plus untung besar melalui aturan-aturan buatan para anteknya yang dipaksakan demi tercapainya hawa nafsu mereka.

Untuk menjaga loyalitas antek mereka yang terpilih melalui manipulasi sistem syirik demokrasi, tidak lupa pula untuk menciptakan oposisi (musuh) sehingga terjadi keseimbangan (batil). Dengan keseimbangan (bermain di kedua belah pihak) inilah mereka menjaga kepatuhan para antek-anteknya. Maka kapanpun dan siapapun bisa dinaikkan kalau loyal dan diturunkan tahtanya kalau membangkang.

Kedua, setelah tonggak keuangan dapat dikuasai, maka mereka akan menciptakan krisis demi krisis yang akan terus dibina hingga menjadikan sebuah kekacauan super hebat yang terus berkepanjangan. Dari sinilah muncul puncak histeria ketakutan tersebut, dan tentunya, orang yang ketakutan akan mudah dikendalikan layaknya sapi yang dicocok hidungnya.

Maka pada titik ini sangat mudah bagi mereka untuk mengeruk kekayaan sebuah negeri, sangat gampang bagi mereka untuk interfensi dalam menentukan kebijakan politik, ekonomi dan sosial-budaya sebuah negara. Dan tentunya sangat enteng sekali bagi mereka untuk menanamkan paham kekufuran (sekularisme, pluralisme, sosialisme, liberalisme dll) dalam semua bidang kehidupan.

Yahudi Menghalangi Orang Beriman dalam Menegakkan Syariat Allah Swt (Islam)

Sikap tamak dan memakan harta secara batil ini telah diingatkan Allah SWT kepada orang-orang beriman agar tidak mencontoh dan mengikuti sikap kaum Yahudi dan Nasrani.

Allah Swt berfirman, "Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebahagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan batil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah". (Q.S. At Taubah 9 : 34)

Berkaitan dengan ayat tersebut, orang-orang alim Yahudi atau Ahbar adalah orang yang "memakan" seluruh kekuatan ekonomi dunia untuk kepentingan misi zionisme mereka, seraya menjadikan dana yang mereka kumpulkan untuk menghalang orang beriman menegakkan hukum dan syariat yang telah ditetapkan Allah Swt.

Strategi Penghancuran yang Dilakukan Yahudi

Yahudi akan terus berusaha memegang dan mempertahankan kekuasaan suatu negeri dengan menanamkan antek-anteknya. Butir ke-19 berbunyi, “Konspirasi akan menciptakan diplomat-diplomatnya untuk berfungsi setelah perang usai. Mereka akan menjadi penasehat politik, ekonomi dan keuangan bagi rezim baru dan juga di tingkat internasional. Dengan demikian, konspirasi bisa semakin menancapkan kukunya di balik layar”.

Yahudi akan terus berusaha menyulut api peperangan dan mengambil keuntungan dari kondisi tersebut. Butir ke-9 protokolat zionis berbunyi, “Konspirasi akan menyalakan api peperangan secara terselubung. Bermain di kedua belah pihak. Sehingga konspirasi akan memperoleh keuntungan besar (dalam penguasaan perekonomian suatu negeri) tetapi tetap aman dan efisien. Rakyat akan dilanda kecemasan yang mempermudah bagi konspirasi untuk menguasainya”.

Butir ke-18 berbunyi, “Perang jalanan harus ditimbulkan untuk membuat massa panik. Konspirasi akan mengambil keuntungan dari situasi itu”. Butir ke-22 berbunyi, “Meletuskan perang dan memberinya, menjual senjata yang paling mematikan akan mempercepat penguasaan suatu negeri yang tinggal dihuni oleh fakir miskin”.

Yahudi akan terus berusaha menguasai tambang-tambang emas dan kekayaan alam lainnya agar bisa menguasai perekonomian dan mengatur dunia sesuai hawa nafsunya. Butir ke-13 protokolat zionis berbunyi, “Dengan emas, konspirasi akan menguasai opini dunia”. Butir ke-21 berbunyi, “Penguasaan kekayaan alam negeri-negeri non yahudi mutlak dilakukan”.

Yahudi akan terus berusaha memiliki aset-aset dan perusahaan-perusahaan melalui privatisasi monopoli dan oligarki kapitalis agar bisa menundukkan dan memainkan krisis suatu negeri. Butir ke-10 berbunyi, “Monopoli kegiatan perekonomian raksasa dengan dukungan modal yang dimiliki konspirasi adalah syarat utama untuk menundukkan dunia hingga tidak ada satu kekuatan non-yahudi pun yang bisa menandinginya. Dengan demikian, kita bisa bebas memainkan krisis suatu negeri”.

Yahudi akan berusaha terus membuat krisis ekonomi untuk menentukan arah kekuasaan dan agar bisa diwariskan turun temurun. Butir ke-15 berbunyi, “Krisis ekonomi yang dibuat akan memberikan hak baru kepada konspirasi yaitu hak pemilik modal dalam penentuan arah kekuasaan. Ini akan menjadi kekuasaan turunan”. (eramuslim digest,The Satanic Finance, edisi 8)

Kesimpulan

Ternyata fiat money itu bukan sekedar riba nasi’ah/tambahan (dari kertas nihil jadi punya nilai besar) dan riba fadhl (pertukaran/sharf kertas dengan kertas dan pertukaran/buyu’ kertas dengan barang). Bahkan secara tidak sadar bisa terjebak kepada bentuk penghambaan kepada tuhan mereka (syirik). Na’udzubillah.

Satu hal yang paling mereka takutkan adalah ketika umat Islam sudah tidak percaya lagi terhadap kertas riba syirik bergambar buatan mereka dan menukarkannya dengan dinar emas dan dirham perak. Maka untuk melawan hegemoni mereka, segeralah kembali ke uang fitrah (uang Islam) yang telah ditetapkan oleh Rasulullah Saw yaitu dinar emas dan dirham perak.

Islam diturunkan untuk membebaskan manusia dari bentuk penghambaan kepada makhluk (syirik) menjadi bentuk penghambaan hanya kepada Allah semata (tauhid).

Senin, 01 November 2010

Mari Menggunakan Dinar dan Dirham

Tinggalkan Riba Sepenuhnya

Uang kertas, Fractional Reserve Requirement, dan Bunga Bank adalah tiga pilar setan penghancur ekonomi. Dinar-dirham akan meruntuhkannya! Insya Allah.

Fitnah paling utama di zaman ini: RIBA. Perbanyaklah ilmu tentangnya. Hindari dan hancurkan!

Enam Abad Dinar Dirham Made in Indonesia

Sebagian besar dari kita mungkin tak pernah tahu kalau Dinar dan Dirham pernah dibuat dan berlaku di Indonesia sebagai mata uang resmi.

Ya, sejak abad ke-14 nenek moyang kita telah akrab dengan kedua jenis mata uang ini. Dinar dan Dirham pernah mendominasi pasar-pasar di sebagian besar Nusantara, antara lain di Pasai, Malaka, Banten, Cirebon, Demak, Tuban, Gresik, Gowa, dan Kepulauan Maluku.

Dinar AcehDalam buku Ying Yai Sheng Lan karya Ma Huan, sang juru tulis dan penterjemah Laksamana Muslim Cheng Ho dari Cina saat muhibah ke Sumatera Utara (1405 � 1433), disebutkan bahwa mata uang Samudera Pasai adalah Dinar emas dengan kadar 70 persen dan mata uang keueh dari timah (1 Dinar = 1.600 keueh). Pasai telah mencetak Dinar pertamanya pada masa Sultan Muhammad (1297-1326) dengan satuan mas yang sepadan dengan 40 grains atau 2,6 gram.

Pada masa Sultan Ahmad Malik Az-Zahir koin Dinar lebih dikenal sebagai Derham mas, dicetak dalam dua pecahan yaitu Derham dan setengah Derham (1346-1383). Setelah Aceh menaklukkan Pasai (1524) tradisi mencetak Derham mas menyebar ke seluruh Sumatera, bahkan semenanjung Malaka. Derham ini tetap berlaku sampai bala tentara Nippon mendarat di Seulilmeum, Aceh Besar pada tahun 1942. Sampai hari inipun di Sumatera Barat masih dijumpai pemakaian satuan mas (1 mas = 2,5 gram) sebagai unit jual beli, terutama untuk tanah.

Dinar Aceh2Dinar juga dibuat oleh kerajaan Gowa di Sulawesi Selatan, pertama kali pada tahun 1595, pada masa Sultan Alaudin Awwalul Islam (1593-1639) dengan Dinar seberat 2,46 gram emas. Dinar Gowa yang paling banyak beredar adalah Dinar Sultan Hasan Al-din yang bertuliskan huruf Arab: Khada Allah Malik Wa Sultan Amin artinya Pejuang Allah Kerajaan Sultan Amin. Yang menyebar dari Ternate, Tidore, Minahasa, Butung, Sumbawa, Gowa Talo, bahkan Papua. Koin ini beredar dari tahun 1654-1902. Saat ini, seperti di Sumbar, tradisi jual beli dengan satuan mas juga masih berlaku di Sulawesi Selatan.

Dirham InggrisDi Jawa Dinar dan Dirham dicetak oleh Kesultanan Mataram pada tahun 1600-an, kemudian oleh VOC sejak tahun 1744 di percetakan uang Batavia yang di desain oleh Theodorus Justinus Rheen. Berdasarkan perjanjian VOC-Mataram, Dinar dicetak seberat 16 gram emas dengan kadar 75 persen dan dinamakan Mahar, sedang Dirham dicetak seberat 6,575 gr dan, dalam sebutan rupiah, dicetak seberat 13,15 gr. Dirham dan rupiah terbuat dari perak dengan kadar 79 persen.

Dirham BelandaIni yang menarik: pada kedua sisi koin tercetak Derham min Kumpani Welandawi dan Ila djazirat Djawa al kabir yang ditulis dengan huruf arab, yang artinya Dirham dari Perusahaan Belanda untuk pulau Jawa Besar. Adapun uang recehan VOC dinamakan doit Jawa (Duit VOC). Setiap 80 duit sama dengan 1 Rupiah (setara 2 Dirham). Lalu tiap 16 Rupiah disebut sebagai satu mahar. Selain itu di Jawa juga dibuat pula derham Inggris (1813-1816) dengan tulisan Jawa kuno: Kempni Hinglis, Jasa hing sura-Pringga. Di baliknya tertulis dengan huruf Arab Melayu: Hinglis, sikkah kompani, sannah AH 1229 dhuriba, dar dhazirat Djawa di desain oleh Johan Anthonie Zwekkert.

DeJavache Bank moneyKedua jenis Derham kompeni ini baik buatan VOC maupun EIC beredar sampai tahun 1860, yaitu setelah berdirinya De Javasche Bank di Batavia pada tanggal 10 Oktober 1827, ketika Pemerintah Hindia Belanda telah mengimpor Gulden secara besar-besaran dari Eropa. Artinya pihak penjajah pun mengakui dan memproduksi Dinar dan Dirham sebagai mata uang yang sah selama 116 tahun, sementara Gulden sendiri baru dibuat oleh penjajah Hindia Belanda setelah tahun 1826 di Negeri Belanda. Jadi, sejak berdirinya VOC, Gulden kalah bersaing melawan real Mexico dan Derham Nusantara.

Setelah perang Jawa atau perang Diponegoro (Mei 1825-Maret 1830), kondisi keuangan pemerintah Hindia Belanda morat marit. Perang ini menelan biaya lebih dari 20 juta Gulden atau setara 40 juta Derham Jawa. Guna memulihkan keuangannya, penjajah ini menarik seluruh Derham kompeni, namun penduduk pribumi enggan menukar Derham mereka dengan uang kertas berjamin tembaga (kopergeld), sehingga masa penukaranpun menjadi molor selama 28 tahun (1832-1860)!. Upaya lainnya dari VOC untuk mengisi kekurangan Kas Negara adalah diterapkannya sistem tanam paksa (Cultur Stelsel) oleh Gubernur Jenderal Van den Bosch selama kurun 1863-1919.

Pada tahun 1873, Hindia Belanda mulai melakukan misi penaklukan Aceh, dan terjadilah perang panjang yang terkenal dengan nama Perang Aceh, Prang Gompeuni, Prang Sabi dan Prang Kaphe (1873-1942). Belanda belum dapat menguasai Aceh sepenuhnya. Secara de jure gulden adalah satu-satunya mata uang yang sah. Tapi secara de facto Derham mas Aceh adalah satu-satunya mata uang yang dapat diterima oleh penduduk Aceh, bahkan berlaku pula di Sumatera Barat dan Deli!

Selanjutnya, ketika berkuasa, pemerintah Dai Nippon terpaksa menerapkan lebih tegas UU No. 2 tanggal 8 Maret 2602 (tahun Jepang Kooki atau tahun 1942) tentang mata uang. Semua mata uang dengan digantikan oleh uang kertas Dai Nippon! Ketika Indonesia merdeka, pada tanggal 26 Oktober 1946, Presiden Sukarno dan Menkeu Sjafroedin Prawiranegara menerbitkan UU No. 19 tentang penerbitan ORI (Oeang Repoeblik Indonesia) dengan dasar 10 rupiah = 5 gr emas murni.

Rakyat menyambut antusias atas terbitnya rupiah republik ini. Sebuah harapan besar akan masa depan yang cerah. Meski kakek nenek kita harus rela dijatah hanya boleh memegang 50 rupiah setiap keluarga, untuk kemudian rupiah Jepang dimusnahkan oleh Pemerintah. Tetapi pada prakteknya dasar hukum UU No. 19 tersebut telah dilanggar sendiri oleh Pemerintah kita sehingga kita mendapati rupiah seperti sekarang ini. Tak ada jaminan emasny alagi. Dan harga emas, pada pertengahan tahun 2009, ini bukan lagi Rp 2/gram, tetapi di atas Rp 320.000/gram, yang artinya nilai rupiah kita dibuat merosot lebih dari 160.000 lebih rendah!

Jelas Dinar-Dirham pernah berjaya selama lebih dari 600 tahun (1302-1942), tak hanya di Aceh dan sebagian Sumatera tetapi juga di Sulawesi Selatan dan sebagian daerah di Jawa Timur. Maka, peredaran kembali Dinar Dirham di wilayah Indonesia sekarang ini, bukanlah sesuatu yang asing dan aneh.

*Sofyan Al Jawi numismatis dan penulis buku Kemilau Investasi Dinar Dirham

Minggu, 31 Oktober 2010

Dinar Untuk Perencanaan Haji: Lebih Murah, Lebih Nyaman…

Dinar Untuk Perencanaan Haji: Lebih Murah, Lebih Nyaman…

Ibadah haji dari waktu ke waktu punya tantangannya sendiri, tidak mudah, berat dan mahal.

Bila pada zaman kakek nenek dahulu tantangannya adalah transport yang bisa memakan waktu berbulan-bulan dan ketidak amanan dalam perjalanannya; saat ini transport banyak dan cepat – namun Anda belum tentu bisa melaksanakan ibadah haji pada waktu yang Anda rencanakan.

Kemudahan dan kecepatan transportasi haji ini ternyata menimbulkan masalah baru, yaitu membludaknya umat muslimin dunia yang (ingin) melaksanakan haji setiap tahunnya. Dampaknya bisa diduga, yaitu keterbatasan daya tampung jamaah haji di Mekah, Arafah, Mina dan juga Madinah.

Karena keterbatasan daya tampung inilah yang menjadikan setiap Negara dijatah (Quota) jumlah orang yang bisa pergi haji setiap tahunnya. Jadi kalau toh Anda berniat pergi haji sekarang, belum tentu Anda memperoleh kesempatan pada bulan haji yang akan datang – bisa jadi kesempatan Anda baru datang 3 – 5 tahun yang akan datang.

Karena kesempatan haji Anda yang mungkin masih beberapa tahun yang Akan datang ini, maka berapa dana yang akan Anda siapkan agar pada waktu kesempatan itu datang – dana Anda benar-benar cukup? Inilah masalahnya.

Komponen biaya haji yang utama adalah mata uang asing yaitu US$ untuk tiket pesawatnya dan Saudi Riyal untuk biaya hidup selama di sana. Karena uang kita Rupiah, maka perencanaan ibadah haji menggunakan uang Rupiah mempunyai setidaknya 2 ketidak pastian – yaitu faktor inflasi dan faktor nilai tukar.

Karena dua faktor inilah maka biaya ibadah haji kita dalam Rupiah memiliki kecenderungan meningkat dari tahun ke tahun. Apalagi pada tahun dimana Rupiah mengalami penurunan nilai yang tajam terhadap US Dollar dan Riyal seperti tahun ini, kenaikan biaya haji dalam Rupiah bisa sangat significant.

ONH Rupiah vs ONH Dinar

ONH Rupiah vs ONH Dinar

Namun Anda tidak perlu kawatir sekarang; berdasarkan statistik 10 tahun terakhir, biaya haji dalam Dinar ternyata terus menerus mengalami penurunan. Bila Ongkos Naik Haji (ONH) biasa tahun 2000 sekitar 70 Dinar, maka tahun ini hanya sekitar 21 Dinar saja atau mengalami penurunan rata-rata 12% per tahun.

Apabila trend ini terus berlanjut, Anda bisa pergi haji hanya dengan 10 Dinar saja pada tahun 2015 – atau ONH plus hanya dengan sekitar 20 Dinar saja.

Jadi dengan Dinar - mata uang emas yang daya belinya tidak pernah rusak oleh inflasi maupun faktor nilai tukar, perencanaan haji Anda menjadi jauh lebih aman.

Ambil contoh misalnya kalau Anda mau mulai serius merencanakan haji Anda dalam rentang 5 tahun yang akan datang, maka relatif aman bila untuk ONH biasa Anda cadangkan 20 Dinar saja. Artinya kalau Anda tabung 1 Dinar per bulan saja, insya Allah nggak sampai 2 tahun dana untuk membayar ONH sudah akan cukup.

Sangat bisa jadi 20 Dinar yang Anda kumpulkan tersebut pada waktunya lebih dari cukup untuk membayar ONH biasa – bila kesempatan datang 3 – 6 tahun yang akan datang. Dalam hal ini Anda bisa meng-upgrade ONH Anda menjadi ONH plus.

Jadi bila Anda rencanakan ibadah haji Anda dengan Dinar; selain kecukupan dana lebih terjamin, juga sangat berpeluang Anda dapat meng-upgrade perjalanan haji Anda dengan yang lebih nyaman ONH plus.

Rabu, 27 Oktober 2010

Awas! Riba Kita Lakukan Setiap Hari

Rasulullah Saw bersabda, “Kelak akan datang kepada manusia suatu zaman yang didalamnya mereka memakan riba. Ketika beliau Saw ditanya, ‘Apakah semua orang (melakukannya)?’. Maka beliau Saw menjawab, ‘Barangsiapa yang tidak memakannya dari kalangan mereka maka ia tetap terkena getahnya’.” (HR Ahmad, Abu Dawud, Nasa’i & Ibnu Majah)

Riba secara bahasa, maknanya adalah bertambah. Riba secara istilah adalah adanya penambahan nilai atau penambahan waktu dalam transaksi. Ada 3 hal yang biasa kita lakukan sehari-hari yaitu :

1. Menjadikan uang kartal/fiat money sebagai standar nilai (illah) untuk semua barang
Imam Syafi’i rh dalam kitabnya al-Umm menjelaskan bahwa fulus (uang receh di bawah dirham, biasanya terbuat dari tembaga/perunggu) tidak bisa dijadikan illah (standar nilai) karena bukan harta ribawi (tidak ditakar dan tidak ditimbang). Uang kartal (fiat money) ini sama dengan fulus yaitu tidak dilihat kadar dan beratnya tapi dilihat gambar dan angkanya. Meskipun fulus dulu (tembaga) lebih berharga daripada fulus sekarang (kertas).

Fulus dahulu dibuat atas desakan kaum Yahudi di Syam pada zaman khalifah Umar bin Khattab ra karena kebakhilan dan keserakahan mereka hingga barang-barang remeh pun ingin dinilai, tidak disedekahkan sehingga mempersulit sedekah. Fulus dijadikan pintu masuk oleh orang-orang yahudi untuk menyuburkan riba dan mempersulit sedekah (mengingkari perintah Allah Swt).

Fulus digunakan untuk barang-barang remeh. Fulus yang dianggap remeh dahulu, sekarang malah dianggap berharga. Kaum muslimin sesungguhnya tidak memerlukan fulus sama sekali, Ulama Salaf membatasi penggunaan fulus untuk menegakkan muamalah, dari segala transaksi hanya sedekah biasa saja yang boleh menggunakan fulus - itupun derajatnya lebih rendah dari sedekah berupa senyuman seorang muslim.

Imam Malik rh berkata, "Tidak ada bedanya sedekah 1 dinar emas dengan sedekah 1 daniq perak, yang membedakan adalah keikhlasan dari niat si pelaku amal." Hal ini menunjukkan ketidaksukaan umum kaum Muslimin generasi awal terhadap fulus.

Imam Syafi’i menjelaskan bahwa yang bisa dijadikan standar nilai adalah dinar emas dan dirham perak karena dilihat qirat (kadar zat) dan wazan (takaran/timbangan)-nya. Dinar dengan kadar emas 22 karat dan berat 4,25 gram. Dirham dengan kadar perak murni dan berat 2,975 gram. Sedangkan untuk pecahan terkecil adalah daniq (1/6 dirham) yaitu perak murni dengan berat 0,5 gram.

2. Sharf (penukaran) uang kartal antara pecahan besar dan pecahan kecil
Dalam akad sharf, barang yang ditukar harus matslan bi mitslin (serupa/sama) kadar zat dan takaran/timbangannya. Dalam penukaran uang kartal menyalahi hal ini karena yang dilihat bukan qirat (kadar zat/kertas) dan wazan (takaran/timbangan per kertas) tapi gambar dan angkanya.

Satu kertas ditukar dengan 2 atau 5 atau 10 atau 20 atau 50 kertas bahkan lebih, yang kadar zatnya sama (kertas) tetapi wazan (takaran/timbangan)-nya berbeda. Hal ini masuk ke dalam riba fadhl. Jangan melihat gambar dan angkanya tapi lihat qirat (kadar) dan wazan (berat)-nya!

Rasulullah Saw bersabda, “Emas ditukar dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, sya’ir dengan sya’ir, kurma dengan kurma, garam dengan garam, serupa dan sama (takaran dan timbangannya) dan dibayar kontan. Barangsiapa yang menambah atau meminta tambahan maka ia telah berbuat riba”. (HR. Muslim)

Riba fadhl secara bahasa artinya kelebihan. Secara istilah yaitu adanya penambahan pada salah satu materi riba yang dibarter dengan sesama jenis dalam satu waktu (kontan). Contoh 20 gram emas ditukar dengan 15 gram emas maka yang 5 gram merupakan riba.

3. Berjual beli dengan menggunakan uang kartal
Rasulullah Saw. “Dilarang (tidak boleh) salaf bersama jual beli”. (HR Abu Dawud, TIrmidzi, An-Nasa’i, & Ibnu Majah, dihasankan oleh Al-Albani)

Yang dimaksud salaf ialah piutang. Diriwayatkan dari sahabat Ubay bin Ka’ab, Ibnu Mas’ud dan Ibnu Abbas ra bahwa mereka semua melarang setiap piutang yang mendatangkan manfaat karena piutang adalah suatu akad yang bertujuan untuk memberikan uluran tangan (pertolongan) sehingga bila pemberi piutang mensyaratkan suatu manfaat, maka akad piutang telah keluar dari tujuan utamanya”. (Imam Asy-Syairazi asy-Syafi’i, Al-Muhadzdzab 1/304)

Memang zaman khilafah Islamiyah dulu ada suftaja atau warkat (semacam kuitansi titipan dinar dan dirham). Suftaja ialah semacam surat kuasa yang diberikan oleh seseorang kepada orang lain sehingga dengan surat kuasa tersebut pemegang surat kuasa dapat mencairkan dinar dirhamnya di tempat (kota) lain dari perwakilan pihak yang mengeluarkan surat tersebut. (Al-Fayyumi, Al-Mishbah al-Munir 1/278 dan Al-Fairuz, al-Qamus al-Muhith 1/301)

Setelah suftaja ini diserahkan ke tempat pengambilan titipan untuk diambil dinar dirhamnya, baru kemudian dipakai transaksi jual beli. Jadi suftaja-nya sendiri tidak dijadikan alat bayar. Suftaja yang ada koin dinar dirhamnya saja tidak boleh dijadikan alat bayar, apalagi kuitansi mimpi yang tidak ada koin dinar dirhamnya!

Ancaman Allah Swt dan Rasul-Nya terhadap Pelaku Riba

1. Terkena penyakit gila
Allah Swt berfirman, “Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri, melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila.” (QS Al-Baqarah 2 : 275)

2. Dilaknat oleh Rasulullah saw
Dari Jabir ra, ia berkata. “Rasulullah saw melaknat pemakan riba, pemberi makan riba, dua saksinya dan penulisnya.” Dan Beliau bersabda, “Mereka semua sama.” (Shahih: Mukhtasar Muslim no: 955, Shahihul Jami’us Shaghir no: 5090 dan Muslim III: 1219 no: 1598)

3. Dosa riba yang paling rendah seperti menzinahi ibu kandung sendiri
Dari Ibnu Mas’ud ra bahwa Nabi saw bersabda, “Riba itu mempunyai tujuh puluh tiga pintu, yang paling ringan (dosanya) seperti seorang anak menyetubuhi ibunya.” (HR Thabrani, dishahihkan oleh al-Albani)

4. Satu dirham dari riba, dosanya lebih berat dari 36 pelacur
Dari Abdullah bin Hanzhalah ra dari Nabi saw bersabda, “Satu Dirham yang diperoleh dari riba dimakan seseorang padahal ia tahu, adalah lebih berat daripada tiga puluh enam pelacur.” (Shahih: Shahihul Jami’us Shaghir no: 3375 dan al-Fathur Rabbani XV: 69 no: 230)

5. Akhirnya akan jatuh miskin
Dari Ibnu Mas’ud ra dari Nabi saw, Beliau bersabda, “Tak seorang pun memperbanyak (harta kekayaannya) dari hasil riba, melainkan pasti akibat akhirnya ia jatuh miskin.” (Shahih: Shahihul Jami’us Shaghir no: 5518 dan Ibnu Majah II: 765 no: 2279)

6. Diperangi Allah dan Rasul-Nya
Allah Swt berfirman, “Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu”. (Q.S. Al Baqarah 2 : 279)

7. Kalau tetap melakukan riba bisa dianggap murtad
Allah Swt berfirman, “Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya”. (Q.S. Al Baqarah 2 : 275)

Syaikh Utsaimin rh berkata, “Keharaman riba telah disepakati oleh para ulama, oleh karena itu barangsiapa yang mengingkari keharamannya, sedangkan ia tinggal di masyarakat muslim berarti ia telah murtad (keluar dari Islam) karena riba termasuk hal-hal haram yang telah jelas dan diketahui oleh setiap orang serta telah disepakati”. (Asy-Syarhul Mumti’ 8/387)
(http://pasar-islam.blogspot.com)

Fulus Penyebab Krisis

Allah Swt berfirman, “Maka sempurnakanlah takaran dan timbangan dan janganlah kamu kurangkan bagi manusia barang-barang takaran dan timbangannya, dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Tuhan memperbaikinya”. (Q.S. Al A'raaf 7 : 85)

Fulus Ciptaan Yahudi

Ketika Islam telah mencapai negeri Syam, para saudagar yahudi mendatangi Khalifah Umar bin Khatthab ra yang kala itu sedang muhibah ke Yerussalem, Palestina. Mereka memohon agar khalifah memberi kelonggaran bagi tradisi pasar yahudi yang menjadikan fulus sebagai uang.

Beliau memberi izin diterbitkannya fulus, dengan catatan hanya boleh beredar di komunitas Yahudi di Palestina dan Syiria. Maka mereka mencetak koin fulus perunggu dengan desain tiruan dirham Sasanid yang ditambahi lafadz arab kuffi “Amirul Mu'minin”, pada tahun 16 Hijriah/637 Masehi. Dalihnya untuk menghormati khalifah. Namun mereka sepakat, bahwa untuk membayar jizyah dan kharaj, wajib menggunakan dinar atau dirham.

Akhirnya fulus tersebut beredar juga di Mesir. Karena menyandang cap bertuliskan Amirul Mu'minin, orang-orang mengira bahwa koin itu resmi dicetak oleh pusat imarah(pemerintahan) Islam, sebab istilah Amirul Mu'minin diperkenalkan oleh Umar Ibn Khattab ra.

Di Mesir, koin fulus menjadi begitu populer di masyarakat golongan bawah, sedangkan di Palestina dan di Syiria, para saudagar yahudi mengekpornya ke luar wilayah karena yahudi kelas bawah sendiri kurang meminati koin ini. Sebab sejak dikuasai oleh Islam, tiga wilayah eks Romawi ini menjadi makmur, karena khalifah dan jajarannya menegakkan keadilan di sana sehingga membawa maslahat bagi semua orang.

Kaum yahudi yang umumnya pedagang meningkat taraf hidupnya, hingga mereka tidak membutuhkan fulus dan segera membuangnya dengan mengupah pekerja mereka berupa koin tembaga ini.

Mendengar kabar bahwa di Mesir banyak kaum muslimin menggunakan fulus untuk transaksi muamalah, khalifah menjadi cemas kalau nantinya fulus dapat menyusup masuk ke Haramain (Mekkah dan Madinah).

Untuk melarang fulus yang sudah terlanjur beredar di masyarakat tidaklah mungkin. Sebab akan sangat merugikan banyak orang terutama kaum dhuafa, karena merekalah sasaran utama yahudi dalam mengedarkan fulus buatannya.

Dengan bijak, khalifah Umar ra segera mencetak koin dirham Islam pertama pada tahun 20 Hijriah/641 Masehi, kemudian diekspor ke Mesir. Bersamaan dengan itu serpihan perak berukuran daniq turut pula diedarkan untuk meredam fulus hingga kebiasaan ini diikuti oleh khalifah berikutnya.

Kita (Umat Islam) Ikut Yahudi hingga Lubang Biawak

Pertanyaan : Lebih berharga mana?

Jawabannya pasti koin 100 karena kita terbiasa menghitung uang seperti token yaitu hanya melihat gambarnya, tidak perduli kadar zat dan beratnya. Padahal kalau kita lihat kedua koin di atas terbuat dari bahan yang sama.

Koin rp 2 terbuat dari aluminium dengan berat 2,29 gram dan koin rp 100 terbuat dari aluminium dengan berat 1,79 gram. Jadi, kalau melihat dari takaran (kadar zat) dan timbangan (berat) maka yang lebih berharga adalah koin rp 2.

Biaya buatnya makin murah tapi angkanya makin ditambah. Kelihatannya makin makmur (angkanya makin banyak), padahal makin miskin (kadar zat & berat uangnya semakin berkurang).

Krisis Mamluk Akibat Fulus

Pada masa Sultan Kamil Ayyubi, tahun 609 H, fulus resmi pertama kali dicetak olehimarah (pemerintahan) Islam, yang diedarkan sebagai uang bantu atau recehan, setelah ratusan tahun diboikot oleh para khalifah sejak zaman Umar bin Khattab ra.

Saat pertama kali diedarkan kembali, nilai tukar 1 Dirham = 6 daniq = 24 fulus. Kala itu ulama langsung memprotes kehadiran fulus meski koin tersebut menyandang stampel sultan sehingga fulus menjadi kurang populer di masyarakat.

Baru pada masa Dinasti Mamluk (Mesir), Sultan Zhahir Barquq dan anaknya, Sultan Faraj bin Barquq (1399 - 1412 M), fulus menjadi populer. Pencetakan uang fulus tembaga menjadi pemasukan utama kas kerajaan.

Dibandingkan dengan yang dihasilkan dari pembuatan dinar dan dirham, pencetakan fulus lebih menguntungkan, karena nilai nominalnya lebih tinggi dari intrinsik bahannya atau yang lazim disebut Seigniorage.

Untuk memproduksi fulus, kerajaan menarik semua Dinar Dirham lama dari peredaran, kemudian diekpor ke Eropa untuk membeli tembaga dalam jumlah besar, agar mendapatkan keuntungan yang berlimpah.

Memang dalam jangka pendek, dengan beredarnya fulus, kerajaan menjadi tampak lebih makmur, anggaran belanja militer dan segala proyek pemerintah yang dibiayai oleh koin-koin tembaga ini meningkat tinggi. Gaji tentara dan pegawai dinaikan, roda perekonomian bergerak lebih menggairahkan, karena uang berada di mana-mana, memicu rakyat untuk lebih produktif dalam membuat beraneka barang dan jasa.

Tapi di balik keberhasilan tersebut ada yang luput dari perhatian sultan, yaitu terjadinya inflasi nilai uang, dengan naiknya harga barang dan jasa. Pemerintah mengatasi hal ini dengan menaikkan gaji tentara dan pegawainya, bahkan memberi bantuan uang tunai langsung bagi kaum dhuafa (mirip BLT kita belakangan ini).

Caranya dengan merevisi nilai fulus, yakni merubah stampel koin dari bernominal 1 fulus menjadi 2 fulus pada ukuran koin tembaga yang nyaris sama yang dilebur ulang. Jelas, ini adalah perampokan besar-besaran terhadap jerih payah rakyat yang disimpan dalam bentuk koin tembaga, karena sebagai logam beratnya nyaris sama tetapi harganya dibuat menjadi dua kali lipat dari koin semula.

Begitu pula seterusnya, pemerintah terus mencetak fulus dalam berbagai nominal. Penduduk diwajibkan untuk menilai fulus dari nominal yang tertera bukan dari bobot logamnya, yang disebut koin token atau uang tanda.

Inflasi mulai tak terkendali, sebab pemerintah terus memproduksi fulus, katanya untuk mengatasi lonjakan harga-harga. Sultan bahkan mulai menangkapi pedagang yang menaikan harga dagangannya, dan mereka dituding sebagai biang kerok rusaknya ekonomi.

Tapi rezim penguasa lupa, bahwa justru kebijakannya yang menjadi akar masalah dengan melimpahnya fulus. Karena uang fulus terus merosot nilainya, rakyat menjadi gusar, Dinar Dirham yang tersisa ramai-ramai dilebur menjadi perhiasan, bahkan menjadi pelana dan bejana.

Ketika kemarau panjang terjadi, menyebabkan kekeringan dan gagal panen, hewan ternak mati kehausan dan kelaparan, penduduk mendesak pemerintah untuk segera mengimpor bahan pangan dari luar negeri.

Tapi impor pangan terancam gagal total, lantaran kerajaan tidak memiliki emas perak yang cukup, karena kas negara hanya terisi oleh koin-koin tembaga yang dihargai sangat murah di mancanegara, itupun harus dijual dengan loakan secara timbang logam. Akibatnya pangan sulit didapat, kalaupun ada, harganya terus membumbung tinggi.

Untuk mengatasi keuangan negara yang kian kritis, sultan menaikan harga sewa lahan, padahal petani dan peternak sudah tak memiliki uang lagi - habis untuk mempertahankan hidup. Mulailah timbul pemberontakan di mana-mana, sementara rezim penguasa mengatasinya dengan tangan besi dan menuding mereka sebagai khawarij.

Padahal siapa yang memulai bencana ini? Kondisi semakin parah, sebagian rakyat di pedalaman meninggalkan desa-desa mereka, dan membiarkan ladang-ladang menjadi tandus tak terurus. Mereka terpaksa hijrah ke negeri muslim lainnya, karena terancam mati kelaparan dan tak sanggup lagi membayar sewa.

Para pengungsi Mesir banyak yang wafat di perjalanan, karena kehabisan bekal, terutama yang masih balita atau karena berusia lanjut. Setibanya di perantauan, sebagian dari mereka yang tidak memiliki pekerjaan, langsung berprofesi menjadi pengemis dan gelandangan. Bagi mereka yang terlalu miskin, terpaksa harus bertahan di desanya, menikmati kelaparan, hidup dan mati sama saja bagi mereka. (Al Maqrizi, Iqhathat al Ummah bi Kashf al Ghummah)

Kesimpulan

Dari kesimpulan di atas maka sepertinya kita ini hidup makin makmur, padahal sebetulnya makin miskin karena angkanya semakin banyak tapi kadar dan berat zat uangnya semakin berkurang. Dengan memakai fulus maka riba tumbuh dengan subur dan mematikan infak.

Krisis dan azab akan terus berlangsung selama tidak mengikuti aturan Allah dan Rasul-Nya. Maka kalau ingin terhindar dari azab riba maka segeralah kembali kepada fitrahnuqud yaitu dinar emas, dirham perak dan daniq perak.

(http://pasar-islam.blogspot.com)

Perbedaan Fiat Money & Dinar Dirham


Fiat Money

Dinar Dirham

Keterangan

Nilai yang dilihat

Ekstrinsik

Intrinsik

Nilai Intrinsik adalah nilai uang yang dilihat dari berat dan kadar zatnya

Daya beli

Menurun

Stabil

Tahun 1975 harga 1 butir telor adalah Rp 10. Kemudian tahun 1985 naik menjadi Rp 100. Dan sekarang 2009 naik menjadi Rp 1000.

Harga Barang

Naik terus (Inflasi)

Tetap (stabil)

Sejak zaman Rasulullah Saw & Umar bin Khattab ra sampai sekarang harga 1 ekor kambing tetap 1 dinar dan harga 1 ekor ayam tetap 1 dirham

Keuntungan Pedagang

Terus turun

Tetap (stabil)

Dengan dinar dirham maka pedagang tidak akan dipusingkan dengan keuntungan yang terus menipis

Upah pekerja

Terus turun

Tetap (stabil)

Dengan upah pekerja yang stabil maka tidak akan pernah ada demo untuk kenaikkan gaji/upah


(http://pasar-islam.blogspot.com)

Fiat Money adalah Simbol Pemiskinan, Pembodohan dan Penjajahan

Setelah Yahudi menjadikan brittania (Inggris) sebagai ibu kota dan poundsterling sebagai mata uang dunia, berikutnya adalah menjadikan amerika sebagai ibu kota dan us dollar sebagai mata uang dunia agar bisa mengontrol dan menguasai dunia. (A Noreaga & Achernahr, The Story of Dajjal)

Berikutnya, sistem dajjal ini akan final dengan menjadikan Israel sebagai ibu kota dan e-money (electronic money) atau digital money (uang digital) sebagai mata uang dunia sehingga mereka bisa full mengontrol setiap penduduk dunia dari mulai jumlah simpanan kekayaan individu sampai setiap transaksi terkecilpun semuanya terekam dalam satu sistem dajjal. (A Noreaga & Achernahr, You Tube-The Arrivals part 47)

Mereka Sudah Memberikan Sinyal Keruntuhan Fiat Money

Yahudi melalui IMF dan PBB sudah menyuruh untuk meninggalkan dollar us sebagai rajafiat money dunia. IMF menyerukan untuk meninggalkan us$ merujuk pernyataan Dominique Strauss-Kahn, the head of the International Monetary Fund. (Republika 02/03/2010)

Apa yang perlu diwaspadai dari pernyataan ini? Apa pengganti us$ yang telah mereka siapkan? mereka (para petinggi IMF) juga tahu kalau us$ akan runtuh dalam waktu yang tidak lama lagi – wacana ini dimunculkan untuk semacam sosialisasi ke dunia akan kondisi yang akan akan mereka buat.

Pertanyaan kedua mengenai apa pengganti US$? Apakah langsung diberi tahu tentang digital money? Tentu tidak akan langsung diberi tahu tapi dibelokkan ke fiat money yang masih buatan mereka tapi berbeda gambar dan istilah.

Digital money baru akan dikeluarkan ketika terjadinya kepanikan penduduk dunia dengan runtuhnya fiat money yang diawali kematian raja fiat money us$ yang akan diikuti fiat money konco-konconya. Maka kemunculan digital money akan dianggap sebagai solusi alias pahlawan kesiangan.

Penggantian us$ dengan sdr terungkap dari pernyataan Dominique bahwa pengganti US$ sebagai reserve currency yang akan datang adalah “similar to but distinctly different from the IMF's special drawing rights, or SDRs”.

SDR adalah masih kertas bergambar buatan IMF tahun 1969; awalnya nilai 1 SDR setara dengan 0.888671 gram emas – yang seharusnya saat itu juga bernilai 1 US$. Setelah kejadian Nixon Shock tahun 1971, ‘uang’ SDR yang tadinya setara emas tersebut-pun berganti menjadi dianggap setara dengan fiat money lainnyayaitu usS$ ,poundsterling, euro dan yen.

Lantas berapa nilai SDR tersebut sekarang ? per tanggal 1-3-2010, 1 SDR nilainya setara dengan US$ 1.52771 atau kalau dibelikan emas hanya dapat 0.0425 gram. Jadi uang SDR itu-pun kini nilainya tinggal sekitar 1/20 (yang sebenarnya nilai aslinya nihil) dari nilai awal ketika diperkenalkan 41 tahun lalu.

Maknanya apa ini semua? Bila us$ diganti dengan sdr bentuk baru sekalipun (yang dikatakan Dominique sebagai similar but distinctly different dengan sdr yang sekarang) – sama saja yaitu sama-sama fiat money, sama-sama kertas bergambar cuma ganti gambar dan nama saja. Ini seperti berusaha menyelamatkan diri keluar dari mulut singa tapi malah masuk mulut buaya.

Kita umat Islam tidak seharusnya menggunakan timbangan dan takaran yang mereka ciptakan. Kita memiliki timbangan dan takaran yang adil sepanjang masa yang sudah ditetapkan Allah dan Rasul-Nya yaitu dinar emas dan dirham perak. Sudah waktunya kita harus berusaha merubah untuk mengikuti petunjuk illahi dan tidak mengikuti petunjuk yahudi dan nasrani untuk memasuki lubang biawak berikutnya.

Rasulullah Saw bersabda, ”’Sungguh kamu sekalian akan mengikuti ajaran orang-orang sebelum kamu sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sehingga walaupun mereka masuk ke dalam lubang biawak, kamu sekalian pun akan mengikuti mereka’. Kami bertanya, ‘Wahai Rasulullah! Orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani?’. Beliau menjawab, ‘Lalu siapa lagi selain mereka’”. (Shahih Muslim No. 4822)

Krisis dan Keputus-asaan Sengaja Dibuat Agar Sistem Dajjal Tetap Dianggap Sebagai Solusi

Saat ini sistem dajjal sedang siap-siap memindahkan ibu kotanya dari amerika menuju tanah suci yaitu palestina dengan mendirikan Israel raya sebagai pusat pemerintahan dunia (new world order). Maka kedigdayaan amerika akan dihancurkan. (A Noreaga & Achernahr, You Tube - Phase 3 part 8)

Dan memang saat ini pemerintahan amerika sudah terlilit hutang ke bank sentral amerika (the fed) yang tidak mungkin terbayar. Penduduk amerika banyak yang kesulitan diantaranya pengangguran yang terus meningkat dan penyitaan rumah yang terus menerus sehingga tunawisma semakin banyak karena sebagian besar warga amerika sama-sama terjebak ke dalam lilitan hutang. (Michael Moore, Capitalism a Love Story).

Anggota kongres amerika Louis McFadden melakukan impeachment atas Dewan Federal Reserve dan berkata mengenai kehancuran ekonomi dan depresi, “Itu merupakan sebuah kejadian yang dirancang agar terjadi.

Kelompok bankir internasional berupaya untuk menciptakan sebuah situasi keputus-asaan sehingga mereka bisa muncul sebagai penguasa atas kita semua”. Akibatnya setelah lolos dari 2 kali upaya pembunuhan, McFadden akhirnya meninggal diracun pada sebuah perjamuan sebelum ia bisa mengajukan proses impeachment. (You Tube, penguasa ekonomi dunia 2)

Agar sistem dajjal berikutnya dengan digital money ini dianggap sebagai solusi maka situasi krisis dan keputus-asaan akan dibuat dengan cara menjatuhkan semua mata uang dunia. Dan mereka baru bisa bertransaksi hanya dengan digital money yang telah mereka siapkan.

Jadi digital money ini tidak akan dipaksakan kepada masyarakat dunia tapi masyarakat sendiri yang akan sukarela mengantri untuk menerimanya. (A Noreaga & Achernahr, You Tube - Phase 3 part 11)

Yahudilah Pemegang Otoritas Pencetakan Uang di Seluruh Dunia

Ketika Otoritas Pencetakan Uang mereka kuasai maka mereka bisa membeli apapun yang mereka suka. Dan mereka pun bisa mengambil apapun yang mereka suka dengan alasan penyitaan karena hutang (ilusi) yang tidak terbayar.

Mantan presiden Amerika Woodrow Wilson berkata, “Sistem pinjaman kita dipegang oleh pihak swasta (bank sentral/the fed).Oleh karena itu pertumbuhan negara maupun segala akrifitas kita berada di tangan segelintir orang, yang atas pertimbangan mereka sendiri ingin menghancurkan kebebasan ekonomi yang sesungguhnya.

Kita telah menjadi salah satu bangsa yang paling dikuasai, paling dikontrol dan didominasi pada peradaban dunia, bukan lagi sebuah bangsa dengan kebebasan berpendapat, bukan lagi sebuah bangsa dengan pendirian dan suara mayoritas, melainkan sebuah bangsa yang dibentuk melalui pendapat dan pemaksaan dari sekelompok kecil orang yang dominan”. (You Tube, penguasa ekonomi dunia 2)

Anggota kongres amerika Louis McFadden berkata, “Sebuah sistem perbankan dunia sedang disiapkan di sini, sebuah negara super yang dikontrol oleh sekelompok bankir internasional, bersama-sama mereka berusaha memperbudak dunia bagi kepuasan mereka sendiri. The Fed telah mengambil alih pemerintah”. (You Tube, penguasa ekonomi dunia 2)

Kesimpulan

Orang amerika saja sebagai guru ekonomi dunia yang kita ikuti mengatakan kalau sistem yang dijalani sekarang ini adalah sistem pemiskinan, pembodohan dan penjajahan. Bagaimana bisa seorang muslim mengatakan kalau sistem yang kita jalani tidak ada masalah bahkan malah dipoles-poles kulitnya sehingga kelihatan seperti sistem syariah.

Tidak akan pernah bisa lepas dari sistem dajjal kecuali ada keinginan kuat dari umat Islam untuk bersama-sama lepas darinya. Bagaimana bisa mengikuti aturan Al-Qur’an dan As-sunnah kalau hidup dengan sistem dajjal dan menikmatinya?

disadur dari: http://pasar-islam.blogspot.com

Redenominasi dan Sanering Bagian Sistem Riba

Ilmu ekonomi ribawi menyebutkan bahwa redenominasi itu berbeda dengan sanering. Jika redenominasi itu adalah pemotongan angka uang menjadi lebih kecil tanpa mengubah nilainya. Sedangkan sanering adalah pemotongan nilai uang menjadi lebih kecil dan mengubah nilainya.

Dalam redenominasi, rp 10.000 dipotong menjadi rp 10, dengan harga barang yang semula rp 10.000 juga berubah menjadi seharga rp 10. Fisik kertasnya tidak digunting sebagaimana yang dilakukan di program sanering.

Berbeda dengan sanering yang secara fisik kertasnya dipotong atau digunting. Dimana rp 10.000 dipotong menjadi rp 10, sehingga dengan demikian harga barang yang semula rp 10.000 belum tentu berubah menjadi seharga rp 10.

Jadi, katanya redenominasi hanya semacam penyederhanaan penulisannya saja yang tidak akan merugikan. Sedangkan sanering itu merugikan, lantaran berubah nilainya. Katanya program sanering itu dilakukan karena ekonomi negara itu sangat buruk yang mendekati ambruk karena hiper inflasi. Sedangkan program redenominasi itu dilakukan karena tujuan efisien penulisan dan pembukuan saja. Benarkah begitu ?

Pemotongan sejumlah digit nominal kertas pada program redenominasi itu ternyata juga ada potensi meleset, dalam arti kata tak serta merta pasti diikuti dengan penyesuaian harga berdasarkan nominal baru itu.

Terlepas dari perdebatan soal definisi dan tetek bengek perbedaan antara redenominasi dengan sanering, sebenarnya ada apa kok Bank Indonesia mulai mewacanakan akan melakukan redenominasi seperti yang dilansir di Republika online.

”Redenominasi berbeda dengan sanering. Ini nilainya tidak berubah, hanya penulisannya disederhanakan,” kata Kepala Biro Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter BI, Iskandar Simorangkir, Selasa (4/5). Menurutnya, saat ini sudah banyak pertokoan besar yang juga sudah mempraktikkan ‘redenominasi’ dalam pelabelan harga.

Untuk menyederhanakan perbedaan redenominasi dengan sanering, Iskandar memberikan contoh harga beras. Misalnya, harga beras satu kilogram Rp 5.000. Dengan redenominasi, tiga digit nol dihilangkan, maka harga beras menjadi Rp 5. Harga beras tetap, hanya nominalnya disederhanakan. Daya beli uang yang terkena redenominasi pun tetap. Uang Rp 5 tetap bisa membeli satu kilogram beras.

Jika sanering yang berlaku, harga beras yang semula Rp 5.000 itu tidak serta-merta ikut menjadi Rp 5. Bisa jadi harga beras tetap Rp 5.000 atau Rp 50. ”Dengan sanering , yang berubah adalah nilai uangnya, bukan penulisan nominalnya. Ini yang merugikan rakyat,” kata Iskandar.

Menurut kabar, kewenangan mengetuk palu perihal keputusan kebijakan redenominasi itu, jika jadi dilaksanakan, ada pada pemerintah (lembaga eksekutif) bukan pada BI (Bank Indonesia).

Pemilik Pecahan Uang Kertas dengan Angka Terbesar di Dunia

Indonesia adalah negara pemilik pecahan mata uang terbesar ketiga di dunia, dengan pecahan mata Rupiah sebesar 100.000. Negara pemilik pecahan mata uang terbesar kedua di dunia adalah Vietnam, dengan pecahan mata uang Dong Vietnam sebesar 500.000. Zimbabwe di urutan pertama dengan pecahan sebesar 10 juta dolar Zimbabwe. Makanya Zimbabwe melakukan redenominasi.

Nah, jika Indonesia kemudian mengikuti jejak langkah Zimbabwe dengan melakukan redenominasi, maka Indonesia inginnya terlepas dari daftar negara-negara dengan pecahan angka kertas terbesar di dunia. Karena hanya ada 2 pilihan, mau cetak kertas dengan angka yang lebih banyak lagi atau angkanya mau dipotong biar kelihatan lebih sedikit.

Redenominasi Zimbabwe

Pada tanggal 1 Agustus 2006 pemerintah Zimbabwe mendevaluasi uangnya 60 % dan pada saat yang sama melakukan redenominasi dengan menghilangkan tiga angka nol di belakang. Sebelumnya us$ 1 = zwd 101,000 menjadi us$ 1 = zwd 250.

Setelah langkah ini dilakukan ternyata tidak sesuai dengan dugaan karena harga-harga barang dan jasa tidak mau mengikutinya sehingga terjadi inflasi besar-besaran. Pada tahun 2007 pemerintah sampai harus membuat peraturan yang aneh yaitu menyatakan bahwa inflasi adalah melanggar hukum negeri itu, artinya tidak boleh ada pihak yang menaikkan harga.

Beberapa eksekutif perusahaan harus masuk bui gara-gara menaikkan harga produknya. Artinya harga barang dipaksa harus mengikuti nilai fiat money (nilai semu) bukan mengikuti nilai komoditi (nilai riil).

Langkah yang tidak biasa inipun tidak mempan juga, akhirnya terjadi lagi perubahan rate 11,900 % yaitu menjadi 1 US$ = ZWD 30,000 – ini angka resmi; angka tidak resminya ada di pasar gelap yaitu 1 US$ = ZWD 600,000.

Apakah dengan demikian uang kertas tersebut dapat diselamatkan? Tidak juga, per Juni 2008 Zimbabwe mengalami inflasi 9.030.000 %. Maka terjadilah redenominasi yang kedua dengan menghilangkan 6 angka di belakang (1.000.000 menjadi 1).

Redenominasi yang kedua sama saja malah memicu inflasi ribuan persen. Otoritas moneter Zimbabwe tidak melakukan pemotongan atas fisik uangnya, tapi dengan mengeluarkan pecahan dalam nilai baru yang sudah disesuaikan dengan nilai redenominasi.

Harga-harga barang dan jasa tidak mengikuti nilai redenominasi itu sehingga dimana program yang ingin dijalankannya itu sebenarnya adalah redenominasi, tapi kenyataan yang terjadi di lapangan menjadi sanering.

Satu pak kecil kopi produksi dalam negeri saat itu mencapai 1 miliar dolar Zimbabwe. Sepuluh tahun lalu, jumlah uang sebesar itu sudah dapat digunakan untuk membeli 60 mobil baru.

Sejumlah industri manufaktur saat itu beroperasi dengan kapasitas 30%. Hal itu karena semakin banyak karyawan yang tidak dapat pergi ke lokasi kerja karena lonjakan ongkos bus yang tinggi.

Pemotongan enam digit nominal mata uang tak diikuti dengan penyesuaian harga berdasarkan nominal baru. Jadi, harga barang dari 1.000.000 bukan menjadi 1, tetapi menjadi 1000. Ini yang memicu inflasi besar-besaran di Zimbabwe.

Banyak pihak juga akhirnya memilih menggunakan berbagai mata uang asing, akibatnya, hiperinflasi. Denominasi mata uang mengalami peningkatan, barisan angka nol pada mata uang semakin banyak. Tadinya ingin mengurangi angka nol malah tambah banyak.

Dolar Zimbabwe nyaris hilang nilainya baik dalam aktivitas komersil ataupun sebagai pendapatan. Saat itu, lebih banyak transaksi bisnis dilakukan dengan menggunakan dolar as, baik secara terbuka maupun tertutup. Ada juga orang yang mulai paham dengan menggunakan emas untuk membeli kebutuhan hidup sehari-hari sehingga tidak terkena dampak sanering.

Bulan Juli 2008, bank sentral Zimbabwe menerbitkan mata uang senilai 100 miliar dolar Zimbabwe setelah inflasi mencapai 2.000.000 %. Padahal, tiga bulan sebelumnya, baru dicetak mata uang 50 juta dolar Zimbabwe. Ketika itu, 100 miliar dolar Zimbabwe hanya bisa membeli tiga butir telur.

Kertas 500 juta dollar zimbabwe kalau dikonversi ke us dollar amerika cuma dihargai 2 dolar. Harga-harga melambung begitu cepat hanya dalam hitungan menit bahkan detik, tak heran jika karyawan toko-toko di zimbabwe begitu sibuk mengganti label harga jika terjadi perubahan harga.

Nilainya di pasar gelap hanya setimpal dengan 33 dolar us. Akhirnya pada Agustus 2008, dilakukan redenominasi yang ketiga kalinya yaitu pemangkasan 10 digit angka nol. Uang 10 miliar dolar menjadi 1 dolar.

Karena lonjakan inflasi semakin menggila, pada Januari 2009 bank sentral negeri Afrika itu kembali mencetak rekor dengan menerbitkan mata uang berdenominasi terbesar sepanjang sejarah manusia, 100 triliun dolar.

Februari 2009, bank sentral kembali melakukan redenominasi yang keempat kalinya dengan memangkas 12 digit angka nol. Mata uang 1 triliun dolar tinggal menjadi 1 dolar Zimbabwe. Pecahan mata uang terbesar hanya 500 dolar Zimbabwe. Kasihan, mau-maunya dibodoh-bodohin.

Sejarah Sanering di Nusantara

Sanering alias pemotongan nilai mata uang yang pernah terjadi di Indonesia pada 1952, 1959, dan 1966. Pada tahun 1952 yang lebih dikenal dengan “gunting syafruddin”, mata uang keluaran NICA (Belanda) dibelah dua dan hanya sebelah kiri yang berlaku dengan nilai setengahnya.

Tahun 1959, sebulan setelah Dekrit Presiden, juga dilakukan pemotongan nilai uang setengahnya. Tahun 1966, ketika inflasi sangat tinggi, kertas seribu rupiah dipotong menjadi tinggal 1 rupiah. Namun, situasi ekonomi yang masih kacau membuat harga barang kembali melonjak gila-gilaan, terutama bahan pokok, seperti beras yang masih banyak diimpor.

Gunting Syafruddin

Pada tanggal 19 Maret 1950,sanering pertama kali dikenal dengan nama “gunting syafrudin” dimana uang kertas betul-betul digunting menjadi dua secara fisik dan nilainya. Dia memerintahkan agar seluruh ‘uang merah’ NICA (Nederlandsch IndiĆ« Civil Administratie) dan uang De Javasche Bank/DJB (bentukan penjajah belanda yang kemudian berubah nama menjadi BI/Bank Indonesia) yang bernilai rp 5 ke atas digunting menjadi dua bagian.

http://warungghuroba.files.wordpress.com/2010/07/untitled9.jpg?w=191&h=109

Gunting Sjafruddin adalah kebijakan moneter yang ditetapkan oleh Syafruddin Prawiranegara, Menteri Keuangan dalam Kabinet Hatta II, yang mulai berlaku pada jam 20.00 tanggal 10 Maret 1950.

Menurut kebijakan itu, “uang merah” (uang NICA) dan uang De Javasche Bank dari pecahan Rp 5 ke atas digunting menjadi dua. Guntingan kiri tetap berlaku sebagai alat pembayaran yang sah dengan nilai setengah dari nilai semula sampai tanggal 9 Agustus pukul 18.00.

Mulai 22 Maret sampai 16 April, bagian kiri itu harus ditukarkan dengan uang kertas baru di bank dan tempat-tempat yang telah ditunjuk. Lebih dari tanggal tersebut, maka bagian kiri itu tidak berlaku lagi alias dibuang.

Guntingan kanan dinyatakan tidak berlaku, tetapi dapat ditukar dengan obligasi negara sebesar setengah dari nilai semula, dan akan dibayar 40 tahun kemudian dengan bunga 3% setahun. “Gunting Sjafruddin” itu juga berlaku bagi simpanan di bank. Pecahan Rp 2,50 ke bawah tidak mengalami pengguntingan, demikian pula uang ORI (Oeang Republik Indonesia).

Kebijakan ini dibuat untuk mengatasi situasi ekonomi negara yang saat itu sedang terpuruk yaitu utang menumpuk, inflasi tinggi dan harga melambung. Dengan politik pengebirian uang tersebut, bermaksud menjadi solusi jalan pintas untuk menekan inflasi, menurunkan harga barang dan mengisi kas pemerintah untuk membayar utang yang besarnya diperkirakan akan mencapai Rp 1,5 milyar.

Pada tanggal 25 Agustus 1959 terjadi sanering kedua yaitu uang pecahan Rp 1000 (dijuluki Gajah) menjadi Rp 100, dan Rp 500 (dijuluki Macan) menjadi Rp 50. Deposito lebih dari Rp 25.000 dibekukan. 1 US $ = Rp 45. Setelah itu terus menerus terjadi penurunan nilai rupiah sehingga akhirnya pada Bulan Desember 1965, 1 US $ = Rp 35.000.

Seperti juga ‘gunting Syafrudin’, politik pengebirian uang yang dilakukan soekarno membuat masyarakat menjadi panik. Apalagi diumumkan secara diam-diam, sementara televisi belum muncul dan hanya diumumkan melalui RRI (Radio Republik Indonesia).

Karena dilakukan hari Sabtu, koran-koran baru memuatnya Senin. Dikabarkan banyak orang menjadi gila karena uang mereka nilainya hilang 50 persen. Yang paling menyedihkan mereka yang baru saja melakukan jual beli tiba-tiba mendapati nilai uangnya hilang separuh.

Pada tanggal 13 Desember 1965 dilakukan Sanering yang ketiga yaitu terjadi penurunan drastis dari nilai Rp 1.000 (uang lama) menjadi Rp 1 (uang baru). Sukarno melakukan sanering akibat laju inflasi tidak terkendali (650 persen). Harga-harga kebutuhan pokok naik setiap hari sementara pendapatan per kapita hanya 80 dolar us.

Sebelum sanering, pada bulan november 1965 harga bensin naik dari rp 4/liter menjadi rp 250/ liter (naik 62,5 kali). Nilai rupiah anjlok tinggal 1/75 (seper tujuh puluh lima) dari angka rp 160/ us$ menjadi Rp 120,000 /us$.

http://warungghuroba.files.wordpress.com/2010/07/untitled10.jpg?w=300&h=68

Setelah sanering ternyata bukan terjadi penurunan harga malah harga jadi pada naik. Pada tanggal 21 Januari 1966 harga bensin naik dari rp 250/liter menjadi rp 500/ liter & harga minyak tanah naik dari rp 100/ltr menjadi rp 200/ltr (naik 2 kali).

Sesudah itu tanpa henti terjadi depresiasi nilai rupiah sehingga ketika terjadi krisis moneter di Asia pada tahun 1997 nilai 1 us $ menjadi rp 5.500 dan puncaknya adalah mulai April 1998 sampai menjelang pernyataan lengsernya suharto maka nilai 1 us $ menjadi rp 17.200.

Lalu apakah kebijakan politik pengebirian nilai fiat money (uang kertas) ini bakal terulang lagi? Sebenarnya pengebirian nilai fiat money ini terjadi secara halus dan perlahan tapi pasti, buktinya bisa dilihat dari kenaikkan harga barang dari tahun ke tahun, yang sesungguhnya adalah pengurangan nilai fiat money. Padahal harga barang itu tetap, tapi karena nilai fiat money yang kita pegang angkanya makin banyak tapi daya belinya makin turun.

Fiat Money itu Angkanya Makin Banyak, Daya Belinya Makin Turun

Sampai awal 1950-an, orang yang punya rupiah jutaan belum banyak. Kalau ada mereka dijuluki jutawan atau ‘milioner’. Tapi sekarang mereka yang gajinya 5 juta di Jakarta, hidupnya pas-pasan. Kalau pertengahan 1950-an, harga mobil mewah mercedes benz hanya sekitar 1 juta rupiah (harga sekarang 2010 mungkin sekitar 1 miliar), setengah abad lalu tidak ada yang membayangkan ada orang yang memiliki kekayaan miliaran rupiah.

Seperti bekas rumah Raden Saleh di Cikini yang tidak kalah luasnya dengan Istana dilego dengan harga rp 25.000. Punya uang rp 25.000 bisa beli rumah besar tapi sekarang tahun 2010, rp 25.000 paling bisa buat beli 5 potong ayam goreng.

Pada 1950-an itu naik oplet hanya rp 1, sekarang tahun 2010 naik angkot minimal bayar rp 2000. Kalau. Langganan surat kabar rp 6 per bulan, eceran 35 sen (rp 0,35) tapi sekarang tahun 2010, harga surat kabar eceran rp 3000.
Salah Satu Tanda Akhir Zaman adalah Hancurnya Sistem Fiat Money dan Kembalinya kepada Sistem Keuangan Islam yaitu Dinar Emas dan Dirham Perak

Hari ini yang kita anggap uang adalah sesuatu yang tidak bernilai alias tidak ada fisiknya (hanya kertas bergambar), hanya angka-angka angan kosong belaka, maka uang akan akan kembali kepada fitrahnya yaitu sesuatu yang bernilai dan tetap yaitu dinar emas dan dirham perak.

Pada kondisi ini yang akan terjadi antara lain : pedagang hanya mau dibayar dengan dinar dirham, orang yang berpiutang hanya mau dibayar utangnya dengan dinar dirham dan pekerja hanya mau dibayar upahnya dengan dinar dan dirham seperti yang disabdakan oleh Rasulullah Saw dalam hadits.

Rasulullah Saw bersabda , “Akan datang suatu zaman dimana tidak ada yang bernilai kecuali dinar dan dirham”. (HR Ahmad).

RUU (Rancangan Undang Undang) Mata Uang

Setelah sempat dua kali tertunda, DPR dan pemerintah akhirnya mulai membahas RUU tentang Mata Uang. Pada rapat perdana, Senin (7/6/2010), Komisi Keuangan (XI) DPR selaku penyusun dan inisiator memaparkan secara garis besar calon beleid itu.

Saat ini, pengelolaan uang dan mata uang diatur Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2004 tentang Bank Indonesia (BI). Meski akan diatur tersendiri, DPR menjamin, sejumlah kewenangan pengelolaan mata uang tetap berada di tangan bank sentral. Misalnya, hak untuk mencetak, mendistribusikan, mengawasi peredaran, menarik, memusnahkan uang, hingga penentuan jenis transaksi yang boleh memakai mata uang negara lain.

RUU Mata Uang mengatur kewajiban penggunaan rupiah sebagai alat pembayaran atau transaksi keuangan di wilayah Indonesia. Namun, aturan ini memberikan pengecualian, yakni BI dapat menetapkan penggunaan mata uang selain rupiah untuk jenis transaksi tertentu atau di wilayah tertentu.

Kewajiban penggunaan rupiah sekarang ini diatur dalam UU BI. Di beleid ini, bank sentral sebenarnya juga mewajibkan seluruh transaksi memakai mata uang Garuda. Namun, BI memberikan pengecualian. Untuk keperluan tertentu atau memenuhi kewajiban dalam valuta asing yang telah diperjanjikan secara tertulis, rupiah boleh tidak dipakai.

RUU Mata Uang juga mengatur soal sanksi. Ambil contoh, setiap orang yang tidak menggunakan uang rupiah dalam transaksi ataupun menolak menerima rupiah sebagai alat bayar dapat dipidana dengan ancaman kurungan maksimal satu tahun dan denda Rp 200 juta.

Menteri Keuangan Agus Martowardojo belum bisa berkomentar banyak atas RUU Mata Uang. “Kami akan mempelajari dahulu dan memberikan jawaban pekan depan,” ujar Agus. (JAKARTA, KOMPAS.com).

Jadi, transaksi di Indonesia harus menggunakan rupiah! Hukumnya fardhu ain alias wajib. Kalau tidak, pilihannya ada 2 yaitu dipenjara maksimal 1 tahun atau didenda rp 200 juta.

Israel adalah Satu-Satunya Negara yang Memakai Sistem Mata Uang Berbasis Emas dan Perak

Tentara Israel pun yang sudah membantai kaum muslimin digaji dengan uang emas dan perak. Misal seorang kapten mendapat gaji bulanan dalam koin shekel emas 25 gram. (Kompas 8/6/2001).

Israel adalah satu-satunya negara di dunia yang memakai sistem uang emas dan perak yaitu koin shekel emas dan shekel perak. Makanya Israel adalah satu-satunya negara yang tidak terkena krisis moneter. Mereka pakai emas dan perak, sedangkan untuk kita dikasih kertas buatan mereka dan diwajibkan pula. Betapa licik dan zalim!

Oleh: Ust. Thorik bin Djured. (www.warungghuroba.wordpress.com)